Ditengah gejolak global Bank Indonesia pilih untuk menjaga Rupiah dan inflasi tetap terkendali, Destry Damayanti: Hasil obligasi AS mempengaruhi pasar – Lombok Insider

Ditengah gejolak global Bank Indonesia pilih untuk menjaga Rupiah dan inflasi tetap terkendali, Destry Damayanti: Hasil obligasi AS mempengaruhi pasar – Lombok Insider

Written by

in

LOMBOK INSIDER – Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski peluang kenaikan suku bunga di Amerika Serikat mulai mereda, pasar keuangan dunia belum sepenuhnya tenang.

Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi membuat aliran modal global tetap bergerak dinamis.

Dalam situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) memilih untuk tetap berpegang pada dua prioritas utama: menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali, sembari terus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Destry Damayanti: Bank Indonesia memprioritaskan stabilitas Rupiah dan inflasi ditengah ketidakpastian global

Pelaksana Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan kondisi pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian meskipun Federal Reserve telah memberi sinyal bahwa siklus kenaikan suku bunga kemungkinan telah berakhir.

Namun, menurutnya, pasar masih memperkirakan biaya pinjaman di Amerika Serikat akan bertahan pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang.

“Lingkungan suku bunga tinggi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi akan terus memengaruhi pasar negara berkembang seperti Indonesia. Secara alami, hal ini akan memengaruhi keputusan kebijakan Bank Indonesia,” ujar Destry saat bertemu wartawan di Simalungun, Sumatera Utara, Jumat.

Baca Juga: Saat Rupiah melemah, emas kembali jadi primadona para investor di Indonesia

Menjaga Rupiah Tetap Menjadi Prioritas

Di tengah dinamika global tersebut, BI memandang stabilitas rupiah sebagai fondasi penting untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus mengendalikan inflasi domestik.

Karena itu, pada rapat dewan gubernur yang berlangsung pada 21–22 Juli, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen.

Keputusan tersebut mencerminkan upaya bank sentral menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan kebutuhan untuk tetap menopang aktivitas usaha.

Selain mencermati pergerakan nilai tukar, BI juga terus memonitor volatilitas berbagai instrumen keuangan domestik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Donald Kurniawan Silalahi

Sumber: jakartaglobe.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Baca Juga: Permintaan investasi emas di Indonesia melonjak hingga 40 persen seiring pelemahan rupiah

“Kami masih memantau volatilitas aset keuangan domestik, termasuk obligasi pemerintah dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kami juga mengamati dengan cermat inflasi pangan,” kata Destry.

Bagi Indonesia, masuknya dana asing masih menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Destry menjelaskan, setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin selama Mei dan Juni, minat investor terhadap instrumen keuangan domestik meningkat.

Hingga pekan ini, arus modal asing yang masuk ke obligasi pemerintah dan SRBI mencapai sekitar Rp195 triliun atau setara USD10 miliar.

Baca Juga: Mobil Listrik vs Mobil Bensin: Mana yang lebih murah perawatannya untuk dimiliki selama 10 tahun? Ini fakta tersembunyi yang harus diketahui

Menurutnya, dana tersebut tidak hanya memperkuat pasar keuangan, tetapi juga meningkatkan cadangan devisa yang menjadi amunisi utama bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.

“Masuknya dana ini sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa kita dan memungkinkan kita untuk mengelola rupiah secara lebih efektif,” ujarnya.

Di luar kebijakan moneter, Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mengendalikan inflasi, khususnya yang berasal dari kelompok pangan.

Langkah tersebut dilakukan melalui berbagai program peningkatan pasokan serta stabilisasi harga kebutuhan pokok di berbagai daerah.

Baca Juga: Han Seo Hee Kembali Menarik Perhatian Publik Lewat Penampilan Terbaru di Paris

Salah satu upaya yang terus diperluas adalah penyelenggaraan pasar pangan bersubsidi yang menyediakan komoditas penting, terutama beras, dengan harga di bawah harga pasar.

Program ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menahan laju inflasi pangan yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan harga.

Bagi Bank Indonesia, tantangan saat ini bukan sekadar menentukan arah suku bunga, tetapi juga menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.

Selama ketidakpastian eksternal masih tinggi, ruang gerak kebijakan moneter diperkirakan akan tetap berhati-hati. Stabilitas rupiah, inflasi yang terkendali, serta keberlanjutan arus modal asing menjadi tiga elemen penting yang akan menentukan ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika pasar global pada paruh kedua tahun ini. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Donald Kurniawan Silalahi

Sumber: jakartaglobe.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *