Tag: Gas
-

PGN Genjot Efisiensi Penyaluran Gas Jatim: Infrastruktur Terintegrasi Jadi Pilar Utama.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengklaim komitmen penguatan operasional gas bumi di Jawa Timur. Klaim ini datang dengan janji optimalisasi jaringan pipa dan infrastruktur strategis. Namun, rincian konkret langkah-langkah tersebut kerap terasa samar bagi pasar energi. Penyaluran gas PGN di Jawa Timur saat ini mencapai 197,91 BBTUD, sebagian besar diserap sektor industri. Angka ini diproyeksikan meningkat seiring geliat ekonomi regional. Proyeksi semacam ini bergantung pada stabilitas pertumbuhan ekonomi yang rentan gejolak. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengamini tren kebutuhan gas yang tinggi di wilayah ini. BPH Migas mendorong diversifikasi sumber energi. Namun, upaya PGN tampaknya masih berpusat pada optimalisasi sumber gas bumi semata. -

BPH Migas Genjot FSRU: Strategi Krusial Amankan Pasokan Gas Jawa Timur
Kebutuhan gas Jawa Timur mencapai rata-rata 413,88 BBTUD, angka yang menegaskan ketergantungan wilayah ini pada pasokan energi fosil. Di tengah konsumsi tinggi tersebut, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendorong pembangunan fasilitas Floating Storage Regasification Unit (FSRU). Usulan ini muncul sebagai respons atas peningkatan kebutuhan, sekaligus menggarisbawahi potensi kerentanan sistem pasokan eksisting.
BPH Migas melihat FSRU sebagai solusi strategis jangka menengah dan panjang untuk memperkuat keandalan pasokan gas. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menegaskan FSRU akan menjadi penopang pasokan berbasis LNG, terintegrasi dengan jaringan pipa Jawa Timur. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa infrastruktur pipa yang ada saat ini belum sepenuhnya menopang laju permintaan.
FSRU diharapkan mampu menyediakan sumber pasokan tambahan yang fleksibel, terutama di wilayah dengan konsumsi besar. Fleksibilitas ini secara teori dapat meningkatkan keandalan penyaluran gas, mengurangi risiko gangguan pasokan seperti yang terjadi pasca planned shutdown pemasok. Namun, fleksibilitas pasokan berbasis LNG kerap datang dengan implikasi biaya yang signifikan.
Pembangunan FSRU membutuhkan investasi besar, mulai dari pengadaan kapal hingga infrastruktur pendukung di darat. Biaya investasi ini pada gilirannya akan dibebankan kepada konsumen, baik sektor industri maupun rumah tangga, melalui harga gas. Peningkatan harga gas berpotensi menggerus daya saing industri lokal yang bergantung pada energi ini.
Strategi Jangka Panjang yang Teruji?
Dorongan pembangunan F