Dari Wall Street ke Fintech, begini jejak Dima Djani sang Pendiri Alami Group yang berkembang di bisnis keuangan syariah Indonesia – Lombok Insider

Dari Wall Street ke Fintech, begini jejak Dima Djani sang Pendiri Alami Group yang berkembang di bisnis keuangan syariah Indonesia – Lombok Insider

Written by

in

LOMBOK INSIDER – Dari Wall Street ke Fintech, begini jejak Dima Djani sang Pendiri Alami Group yang berkembang di bisnis keuangan syariah Indonesia.

Ketika gelombang fintech mulai mengubah wajah industri keuangan Indonesia pada akhir dekade 2010-an, sebagian besar perusahaan berlomba menawarkan layanan pembayaran digital, pinjaman konsumtif, atau investasi daring.

Namun, di tengah hiruk-pikuk inovasi tersebut, Dima Djani memilih jalur yang berbeda.

Alih-alih mengejar pasar konsumtif, ia melihat peluang besar yang selama ini kurang mendapat perhatian: pembiayaan syariah untuk usaha kecil dan menengah (UKM).

Baca Juga: Berawal dari keterbatasan, Aliuyanto sukses membesarkan Solaria hingga ratusan outlet

Pilihan itu melahirkan Alami Group, perusahaan teknologi finansial berbasis syariah yang kemudian berkembang hingga mengakuisisi dan mentransformasi sebuah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) menjadi Hijra Bank.

Hingga kini, kedua entitas tersebut telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp4 triliun, menjadikannya salah satu pemain penting dalam ekosistem keuangan syariah digital di Indonesia.

Perjalanan Dima Djani tidak dimulai dari dunia startup.

Ia mengawali karier di industri perbankan internasional setelah menempuh pendidikan di Singapura dan Amerika Serikat dengan fokus pada manajemen bisnis dan keuangan.

Baca Juga: Waduh! Sule ternyata tak diundang pernikahan Nathalie Holscer dan Aripat

Sekembalinya ke Indonesia, Dima bergabung dengan Citibank Indonesia, menangani berbagai transaksi corporate investment dan investment banking, termasuk untuk perusahaan besar dan BUMN.

Kariernya berlanjut di Société Générale, bank investasi asal Prancis yang saat itu tengah memperkuat bisnis corporate investment banking di Indonesia.

Bekerja di lingkungan global membentuk cara pandangnya terhadap industri keuangan. Tata kelola, manajemen risiko, dan kepercayaan nasabah menjadi fondasi yang kelak dibawanya ketika membangun perusahaan sendiri.

Baca Juga: Kepala BGN kisahkan pengalaman makan banyak telur saat kecil, dokter luruskan anggapan soal bisulan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Donald Kurniawan Silalahi

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pada 2018, bersama dua rekannya, Dima mendirikan Alami. Namun, model bisnis awal perusahaan berbeda dengan yang dikenal masyarakat saat ini.

Alami mulanya berperan sebagai agregator pembiayaan UKM. Perusahaan membantu menyeleksi calon debitur sebelum menghubungkan mereka dengan bank-bank syariah.

Model tersebut ternyata menghadapi tantangan. Saat itu, banyak bank masih memandang fintech sebagai pesaing, bukan mitra strategis.

Kondisi tersebut membuat Alami mengubah strategi.

Perusahaan kemudian bertransformasi menjadi platform peer-to-peer lending berbasis syariah, sebelum akhirnya memperoleh izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019.

Baca Juga: Promedia wujudkan hunian lebih sejuk di Ciamis melalui Program Ganti Atap Rumah Wartawan

Pandemi Covid-19 menjadi ujian terbesar bagi industri keuangan.

Di saat banyak lembaga pembiayaan memilih menahan ekspansi, Alami justru mencatat pertumbuhan.

Fokus pada pembiayaan produktif bagi UKM, dipadukan dengan pemanfaatan teknologi analitik data untuk menilai risiko pembiayaan, membantu perusahaan menjaga kualitas portofolio.

Pada saat yang sama, meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis syariah turut memperluas basis pengguna Alami.

Perusahaan menempatkan diri sebagai mitra pembiayaan bagi UKM yang membutuhkan modal kerja dalam jumlah menengah—segmen yang selama ini belum banyak terlayani.

Baca Juga: DDU-DU DDU-DU BLACKPINK sukses cetak sejarah, jadi MV Grup K-Pop pertama yang tembus hingga 2,4 miliar penayangan

Meski terus berkembang, Dima menyadari bahwa model fintech memiliki keterbatasan.

Kapasitas pembiayaan platform peer-to-peer lending sangat bergantung pada dana investor. Ketika kondisi pasar berubah, kemampuan menyalurkan pembiayaan juga ikut terpengaruh.

Dari sinilah lahir gagasan untuk masuk ke industri perbankan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Donald Kurniawan Silalahi

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Alih-alih mendirikan bank baru yang membutuhkan proses panjang, Alami Group memilih mengakuisisi BPRS Cempaka Al-Amin, satu-satunya Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang berbasis di Jakarta.

Setelah proses akuisisi pada 2021, bank tersebut berganti nama menjadi Hijra Bank.

Transformasi Hijra Bank bukan sekadar pergantian identitas.

Alami melakukan pembaruan sistem operasional, memperkuat tata kelola perusahaan, serta menggabungkan tim startup dengan para profesional berpengalaman di industri perbankan.

Hasilnya mulai terlihat.

Baca Juga: Promedia wujudkan hunian lebih sejuk di Ciamis melalui Program Ganti Atap Rumah Wartawan

Saat diakuisisi, aset bank tercatat sekitar Rp12 miliar. Dalam beberapa tahun, nilainya meningkat mendekati Rp300 miliar.

Dana pihak ketiga juga melonjak dari sekitar Rp8 miliar menjadi sekitar Rp150 miliar, sementara jumlah nasabah telah melampaui 100 ribu akun.

Keberadaan bank juga membuat biaya dana menjadi lebih efisien, sehingga grup memiliki ruang lebih besar untuk memperluas pembiayaan.

Kini, Alami dan Hijra Bank berjalan sebagai satu ekosistem.

Alami melayani pembiayaan hingga Rp2 miliar per debitur sesuai ketentuan regulator, sementara Hijra Bank dapat memberikan pembiayaan hingga Rp10 miliar.

Baca Juga: Misteri pesawat Pan-Am yang hilang dalam kecelakaan 74 tahun lalu akhirnya terpecahkan, ditemukan di dasar laut

Struktur tersebut memungkinkan perusahaan mendampingi pelaku usaha dari skala kecil hingga berkembang menjadi bisnis yang lebih besar.

Bagi Dima, masa depan keuangan syariah bukan sekadar digitalisasi layanan, melainkan membangun institusi yang mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Perjalanan Alami Group juga menarik perhatian investor.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Donald Kurniawan Silalahi

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Perusahaan telah memperoleh pendanaan dari sejumlah modal ventura, di antaranya Golden Gate Ventures, Aavishkaar Capital (Ageti), East Ventures, dan Kona.

Di sisi lain, sejumlah negara seperti Malaysia, Brunei, dan Turki disebut mulai menunjukkan minat terhadap model bisnis yang dikembangkan Alami Group, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai ekspansi internasional. ***

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Donald Kurniawan Silalahi

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *